Perhatikan! 5 Resiko Usaha Gas Elpiji

Posted on

Perhatikan! 5 Resiko Usaha Gas Elpiji

Saat ini banyak masyarakat Indonesia yang perlu mencari dan menggunakan LPG 3 kg. Salah satu alasan mengapa elpiji 3 kg lebih banyak digunakan dibandingkan dengan elpiji 5 kg dan 12 kg adalah karena harganya disubsidi oleh pemerintah sehingga harga ke konsumen lebih murah. Kita sering melihat orang membawa tabung gas kosong untuk membeli tabung gas baru. Apakah Anda salah satunya? ha ha ha

 

Dengan melihat fenomena industri, sangat mungkin untuk mengubahnya menjadi ide bisnis. Namun, menjalankan bisnis atau bisnis melibatkan pengambilan risiko, Bisnis elpiji memiliki prospek yang baik, karena pelanggannya luas, setiap rumah tangga harus memiliki botol gas untuk memasak dan jika habis dibeli dari agen gas (Kios) terdekat.

 

Inilah sebabnya mengapa orang ingin membuka bisnis pialang LPG karena kecepatan uangnya tinggi. Namun bagi anda yang berniat membuka usaha elpiji perlu mempertimbangkan resiko yang anda hadapi agar ketika anda memiliki usaha anda tidak terbatas karena resiko yang anda hadapi dapat dicegah.

 

Salah satu rumah tangga yang dikatakan menguntungkan adalah bisnis gas oil, khususnya gas oil 3 kg. Pasalnya, mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan LPG sebagai bahan bakar peralatan memasak. Tidak hanya digunakan dalam masakan rumahan tetapi juga oleh banyak pedagang kecil yang menggunakan LPG. Karena itu, pasar penjualan LPG cukup besar. Dibalik prospek penjualan elpiji yang menarik, terdapat banyak risiko dalam bisnis elpiji yang perlu Anda waspadai. Tujuannya agar Anda dapat mengantisipasi segala risiko di masa depan agar bisnis Anda berjalan lancar.

 

Risiko Usaha

 

1 Rugi Seketika

Resiko terbesar dalam bisnis gas cair adalah kerugian akibat kebakaran dalam sekejap. Ketika 1 tabung gas terbakar/meledak, itu membakar segalanya dan Anda kalah. Sering kita jumpai yang menyebabkan gas pembakaran dan menimbulkan banyak kerusakan.

 

2 Modal Cukup Besar

Kebutuhan untuk menginvestasikan banyak modal adalah risiko pertama dalam bisnis LPG. Ini berlaku untuk broker dan reseller. Modal besar ini digunakan untuk pembuatan tangki penyimpanan LPG yang kemudian dijual ke masyarakat.

 

Solusinya, Anda bisa memulai bisnis LPG dengan menjadi dealer terlebih dahulu agar Anda bisa mengatur biaya modal Anda dengan baik. Tidak hanya itu, dealer akan mencegah Anda membeli minyak gas dalam jumlah besar agar anggaran Anda tidak membengkak. Membeli elpiji secara cicilan memudahkan untuk memulai bisnis ini secara bertahap. Menjual elpiji, apalagi menjadi broker gas, membutuhkan modal yang tidak sedikit. Karena Anda membutuhkan persediaan yang cukup banyak di tahap awal penjualan. Sebagai langkah pencegahan, Anda bisa memulainya dengan menjadi bandar gas.

 

Selain itu, Anda perlu mengisi tangki bensin yang Anda butuhkan secara bertahap, tidak dalam jumlah banyak sekaligus. Cara ini setidaknya bisa mengurangi modal awal untuk penjualan minyak gas. Modal awal yang dibutuhkan untuk membangun usaha LPG adalah gudang atau kantor, alat angkut, jumlah persediaan awal dan kebutuhan promosi penjualan. Modal masing-masing pengusaha elpiji tentu berbeda-beda. Modal awal untuk sub gas elpiji 3 kg bisa mencapai Rp. 50.000.000 atau bahkan lebih. Jika Anda adalah sub-agen yang cukup besar, cobalah menjadi reseller terlebih dahulu. Baca disini artikel Cara Menjadi Distributor LPG 3 kg.

3 Distribusi Tidak Lancar

Risiko berikutnya bagi perusahaan minyak gas adalah operasinya terhambat oleh proses distribusi yang buruk. Jika hal ini terjadi, maka akan terjadi kelangkaan di tingkat retail. Anda juga akan memiliki citra buruk sebagai penjual; karena stok LPG sering tidak tersedia. Pelanggan kemudian pergi mencari dealer lain dan Anda kehilangan banyak pelanggan. Untuk mengantisipasinya, Anda perlu pintar-pintar menghemat cadangan gas agar tidak mudah habis.

 

Stagnasi LPG dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti cuaca buruk dan kekurangan bahan bakar itu sendiri. Jika demikian, penjual harus menyiasatinya dengan memesan terlebih dahulu, meskipun stok tabung gas masih sedikit.

 

Jika hal ini tidak segera diatasi, proses penjualan bisa menjadi sulit dan penjual takut kehilangan pelanggan ketika pindah ke kios lain. Risiko bisnis migas ini merupakan risiko yang tidak terduga. Proses distribusinya rumit dalam berbagai hal, seperti kondisi cuaca yang menghambat kecepatan transportasi atau perbaikan jalan, serta perbaikan lubang bor atau pemeliharaan gudang Pertamina, dalam hal ini produksi berkurang untuk sementara. Selain itu, ada kemungkinan alat transportasi yang digunakan tiba-tiba bermasalah.

 

4 Kelangkaan GasĀ 

Penggunaan LPG yang berat dapat menyebabkan kelangkaan. Tak bisa dipungkiri bahwa produk ini telah menjadi incaran banyak pihak, mulai dari ibu rumah tangga hingga perusahaan masak-memasak. Peningkatan penggunaan elpiji pada waktu-waktu tertentu seperti Idul Fitri dan Natal juga dapat memperburuk situasi ini.

 

Percepatan proses pendistribusian tidak sebanding dengan menipisnya tampungan LPG. Akibatnya, kekurangan tabung gas tidak bisa dihindari. Sulit juga membuat orang tertarik untuk beralih ke tabung gas yang lebih besar karena harganya yang sangat mahal.

 

Sebagai retailer pasti bingung karena pembeli terus mencari botol bensin. Apalagi jika botol gas 3 kg hilang. Sulit bagi orang untuk beralih ke botol gas yang lebih besar karena harganya yang cukup tinggi.

 

Ada kalanya Pertamina membutuhkan tabung gas 3 kg. Kekurangan ini dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman tabung gas dari subkontraktor ke pengecer, yang pada akhirnya dikeluhkan oleh konsumen karena tidak dapat memasak untuk beberapa waktu. Untuk mengatasi hal ini, pengiriman LPG tidak hanya 3 kg, tetapi juga LPG 5 kg dan 12 kg.

 

5 Mengganggu Saat Bongkar MuatanĀ 

Risiko berikutnya dalam bisnis LPG adalah proses bongkar muat yang meresahkan masyarakat sekitar, baik itu tetangga maupun orang yang lewat. Biasanya proses bongkar muat memakan waktu lama dan menimbulkan suara bising yang cukup mengganggu.

 

Selain polusi suara, proses ini juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan, baik itu pengendara maupun pejalan kaki. Hal ini dikarenakan badan transporter cukup besar sehingga terkadang memakan banyak jalan. Akibatnya, lalu lintas macet dan rawan kecelakaan.

 

Risiko terakhir dari perdagangan minyak gas adalah proses bongkar muat, yang dapat mengganggu tetangga. Insiden ini dapat terjadi jika pendirian Anda berada di lingkungan terbatas. Hal ini dikarenakan proses bongkar muat LPG biasanya menggunakan truk besar dan memakan waktu yang lama. Jika demikian, tetangga mungkin merasa kesal dan terganggu.

 

betapa berisiknya suara ketika tabung gas mogok saat bongkar muat dan itu tidak bisa dihindari. Penghuni properti mungkin merasa tidak nyaman dengan suara yang dihasilkannya. Jadi usahakan untuk melakukan proses bongkar muat di luar jam istirahat dan lengkapi usaha Anda dengan segala izin yang diperlukan, seperti izin penghentian.

 

6 Kerusakan Tabung Gas Elpiji

Tabung gas yang rusak adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh pembeli dan penjual atau agen. Karena permintaan yang tinggi, proses penyaluran elpiji 3 kg tidak memakan waktu lama. Operasi bongkar muat aktif sering menyebabkan tabung gas bertabrakan, membuatnya rentan terhadap kerusakan.

 

Tabung gas dengan konstruksi yang buruk tidak begitu menarik bagi pembeli, yang biasanya tertarik dengan tabung gas baru atau yang sangat baik. Selain itu, potensi kebocoran gas pada kartrid yang kurang dirawat jauh lebih besar. Oleh karena itu, pembeli menghindari membeli tabung gas dalam kondisi ini.

 

Jika itu yang terjadi, penjual akan kesulitan memasarkan tabung gas dalam kondisi rusak. Untuk mengatasi hal tersebut, disarankan agar penjual segera mengganti tabung gas yang masih dalam kondisi baik dan aman digunakan.

 

Risiko kerusakan tabung gas cair sangat tinggi, terutama tabung gas 3 kg. Pasalnya, proses pendistribusian tabung gas terus berputar dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini membuat tabung gas secara fisik lebih mudah rusak. Karena itu, konsumen enggan membeli tabung gas yang penampilannya tidak sempurna.

 

Risiko paling berbahaya dalam bisnis minyak gas adalah kerusakan atau kebocoran tabung gas saat bongkar muat. Terkadang petugas yang bertanggung jawab atas bongkar muat tabung gas tidak hati-hati dalam menjalankan tugasnya dan secara tidak sengaja menyebabkan kebocoran kecil pada tabung. Namun kebocoran kecil ini dapat mengurangi dosis yang diterima konsumen dan menyebabkan ledakan di gudang atau tempat usaha Anda, yang tentunya sangat merugikan.

 

6 Keselamatan Terancam

Tabung gas dalam kondisi buruk juga dapat mengancam keselamatan penjual dan pembeli. Ancaman ini bisa berupa apa saja, mulai dari kebocoran gas hingga kebakaran. Dengan demikian, ancaman keamanan menjadi risiko bisnis gas yang tidak boleh diabaikan.

 

Sebaiknya penjual melakukan pengawasan langsung terhadap proses pendistribusian tabung gas sehingga dapat memeriksa kondisi tabung dan segera mengambil tindakan jika ditemukan tabung gas dengan kondisi fisik yang kurang baik. Selain itu, penjual juga harus memperhatikan penyimpanan tabung gas, seperti menjauhkannya dari sinar matahari langsung, benda tajam dan api.

 

Risiko bisnis minyak gas berikutnya adalah berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia. Sudah menjadi rahasia umum jika beberapa kebakaran disebabkan oleh kebocoran LPG. Untuk itu, pastikan saat bongkar muat barang harus memperhatikan kualitas fisik gas. Untuk menghindari kebocoran dan bahaya ledakan. Langkah lain yang bisa Anda lakukan adalah menyiapkan ruangan khas untuk penyimpanan gas, misalnya terbuka dan luas.

 

7 Masyarakat Masih Takut

Sebagian orang masih menganggap berbahaya menggunakan kompor gas dengan tabung gas LPG. Ini biasanya terjadi di pedesaan, sehingga mereka lebih suka memasak dengan kayu bakar. Risiko bisnis elpiji ini menjadi tantangan bagi pengusaha untuk memperluas pasarnya.

Minimnya sosialisasi dan risiko ancaman keamanan menimbulkan ketakutan masyarakat, terutama di desa dan daerah terpencil, untuk menggunakan elpiji. Kekhawatiran ini mencegah mereka beralih ke bahan bakar yang lebih modern dan lebih ekonomis. Mereka biasanya menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak atau kebutuhan sehari-hari lainnya.

 

Oleh karena itu, Anda harus melakukan survei terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhan masyarakat akan elpiji sebelum memulai bisnis ini. Jika Anda merasa penggunaan kayu bakar jauh lebih dominan, sebaiknya batalkan rencana Anda untuk memulai bisnis LPG. Jika ingin menjual elpiji di pedesaan, sebaiknya cari tahu dulu berapa kebutuhan elpiji. Hal ini dikarenakan seringkali masyarakat pedesaan masih takut menggunakan elpiji, mereka lebih memilih kayu bakar. Meski tidak semua, namun Anda perlu mempertimbangkannya dengan matang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *